04 Agustus 2009

Ah!

Terkungkung oleh waktu,
saat putaran bumi terasa sangat cepat berlalu.
Aku tak sempat menghindari,
saat harap terlalu cepat melesat terbang...

Dan aku kehilangan,
aku berbicara padamu dengan gemetar,
aku kehilangan.
Disana berfoya dengan waktu,
menikmati katamu,akh!

Sempatkah terlintas sebuah tanya
Tentang asa yang kita sebar agar tumbuh?
Ataukah tidak ada satu pun keinginan?

Kembali aku terkungkung oleh waktu
Dia hendak menjemputku
Dan aku tak akan pernah tau siapa dirimu
Inginkah??

03 Agustus 2009

Eforbia, harapku Jangan Kau Layu


Sisa-sisa hujan masih tampak sangat segar. Aku memandang dedaunan disebrang pohon bunga kertas itu masih tampak basah. Akh! Inilah kesegaran... Sudah kurang lebih aku memandanginya, bunga merah eforbia yang selalu mekar itu: pemberian Mas Undang.
Sedih sebenarnya, namun ternyata ini penantian.

Lima bulan lalu, saat mentari sedang tinggi-tingginya aku bertemu dengan Mas Undang. Entahlah saat itu, tidak ada apapun yang terlintas. Hanya sosoknya yang gagah dengan seragam kebesarannya yang selalu terkenang. Oh! Itu mungkin kesannya, kesan pertama yang selalu ku ingat. Saat itu aku sangat pusing, rupanya tensi darah sedang rendah-rendahnya, tidak pula aku sarapan: bimbingan dengan dosen tepat waktu lebih penting dari pada sarapan. Hmm, aku ingat aku memberhentikan motorku, aku membuka helmku, aku sangat pusing, entahlah mungkin mau pingsan. Tiba-tiba sosok gagah menghampiriku. Yang aku ingat hanya ucapan salamnya... aku terbangun, dimana ini?? aku berada didipan yang keras, aku pusing.. sosok tadi menghampiriku, "kamu pingsan" katanya sopan.

Aku pertama kali bertemu saat itu.

Mas Undang mengantarkanku pulang: dia sangat manis.

Beberapa waktu berselang, sering aku dan Mas Undang bertemu. Hanya sekedar menyantap makan siang, atau mencicipi mie ayam, dia sangat menyukainya. Aku selalu rindu ketika dia memimpin kami berdoa sebelum makan. Dia mengingatkanku untuk sarapan. Dan saat dia mengatakan sesuatu...

"... bersediakah menjadi pendamping mas, Ni?"

Aku ragu, tapi aku tak berani menolak. Ku jawab tersenyum, "...insyaAllah, Mas"

Dari sana, kita mulai dekat. Kami melibatkan keluarga untuk urusan ini. Aku bahagia, mendengar penilaian Ibu dan Bapak tentang Mas Undang. Aku pun dipertemukan dengan keluarganya. Entahlah, tapi aku rasa Ibu Mas Undang senang padaku, aku senang pula berada di tengah keluarganya.

Lima bulan itu, bagiku sangat berkesan.
Dia memberiku eforbia, indah sekali.... Aku selalu menatapnya pada pagi hari, sebelum aku melewati jalan dimana kami pertama kali bertemu. Dan aku selalu tak sadar meneteskan air mata... Aku rindu padanya, pada Mas Undang...



dia telah tiada..



(cuma cerita duanks..)

antara dua mata angin

jika sesaat aku terdiam, itu hanya sebuah isyarat
agar kau tahu, apa yang ingin aku katakan.
aku tak mau memaksa, tapi aku hanya ingin satu: kepastian.

sadarkah?
dirimu bagai dua mata angin
yang menarikku ke timur
dan yang menarikku ke utara
dan aku kuasa menentukan pilihan
karena dirimu ada diantaranya

antara timur dan utara

dan kau biarkan aku menebak
kemana arah selanjutnya?
akh!

sadarkah?
dirimu bagai dua mata angin
yang tak pernah memberiku peluang
untuk memutarkan kincir
kincir yang ku rangkai atas harapan-harapanmu

aku tak pernah sesuka ini
menyukai seseorang,
tapi, akupun tak pernah seletih ini
menunggu kepastianmu

aku tak ingin terpuruk
dan akan ku tunjukkan itu!

aku tak ingin ada diantara dua mata angin,
akan aku tentukan langkahku sekarang..

tetapi, semoga tidak salah..
aku masih berharap (saat aku menentukan arah)
kau tepat disana menyambutku..


(Ya Allah, lindungilh waktuku dari kesia-sian.., aamiin)