25 Desember 2010
Hilang
kehilangan waktu yang akan segera berpamitan
dan ia tak akan pernah kembali
terkubur bersama ratusan bintang yang mengundurkan diri
aku tak bisa memaksananya tinggal
karena ia memang ingin pergi
ya lakukanlah
sampaikan pada Tuhan
bahwa aku ingin lebih baik
29 November 2010
Ku Lepas Kau Dari Hatiku
Setelah banyak aku lewati hambatan untuk tetap menyimpanmu dalam hatiku
Memupuk harapan-harapan yang kau rangkai lewat katamu
Menutup telinga tentang hitammu, dan tetap menjaga putihmu
Berat melepasmu,
Setelah semakin lama dirimu menancapkan mimpi di anganku
Hingga aku terus merasa kau tercipta untukku
Mengumbar senyum pada setiap orang : aku bahagia bersamamu
Berat melepasmu,
Setelah merasa lelah memilikimu
Memberikan apa yang ingin aku berikan padamu
Meyakinkan bahwa aku satu milikmu
Berat melepasmu,
Setelah semakin merasa kau membutuhkanku
Mengeluh kepadaku
Berbagi tentang cerita hidupmu
Berbagai tentang keinginan di masa depan
Tapi,
Aku harus mampu melepasmu...
Aku ingin hidup tanpa angan-angan semu
Karena aku mampu mencapai apapun tanpamu
Dan kini,
Kau ku lepas dari hatiku ...
04 September 2010
Terakhirkah?
tersimpan dalam kata yang rapat makna
ada desiran halus menyeringai
membangkitkan beberapa kegalauan
masih adakah kamu disana??
masih dengan kata yang rapat makna
aku berjalan gontai
pikiranku mengelana
mengintari bukit-bukit yang gelap berkabut
aku masih bersama malam
dan kata yang rapat makna
berharap Tuan datang.....
Terakhirkah?
tanyaku pada angin yang akan berlari ke langit
Terakhirkah??
tanyaku lagi pada burung yang akan terbang ke langit
Terakhirkah???
tanyaku pada awan yang berada di langit
dan masih dengan kata yang rapat makna
aku dimintaNya menunggu...
Kau bersamaku..
16 Januari 2010
Pilihanku..
Aku terima, ketika bait-bait cinta telah dideklamasikan
Meskipun ketika di sana dirimu berdiri -masih ragu- untuk menjemputku
Dan aku -pun masih ragu- ketika harus duduk tertunduk menantimu
Itulah, mengapa aku sertakan Tuhan dalam bait-bait cinta
Bait cinta yang dekapkan hatimu padaku, karena ia telah terdeklamasikan
Aku mencarimu, saat ini...
Mencari harapan yang selalu ada pada dentingan bel pertanda dirimu datang
Tapi tak kunjung dirimu datang, angkuh!
Tak mengertikah apa kata hatiku??
Aku akan diam dan kembali tertunduk, menantimu kembali
Dan tak apalah sesekali mengintip di bawah jendela
Berharap dirimu datang dengan sekuntum harapan yang merekah mekar
Pilihanku adalah dirimu -walau masih ragu-
Dan akan tetap aku sertakan Tuhan dalam bait-bait puisiku
Karena sebenarnya tak pernah aku tahu siapa dirimu
Yang berdiri gagah di sana...
Aku tak mengenal lagi dirimu, saat ini...
Ketika kau sangat angkuh, melewati jendela depan hatiku
Tak masuk untuk melihatku, yang sedang duduk tertunduk..
Pernahkah terpikir, aku ini perempuan?
Pikiranku adalah hatiku, dan saat kau pergi hatiku pun pergi
karena bait-bait puisi telah tertanam dalam hatimu, punyaku..
Aku ragu,
Karena Ku yakin disana pun Dirimu ragu,
Tapi ini pilihanku, tetap duduk menunduk
Menantimu datang menjemput,
dan Tuhaan... jika bukan dia, tunjukkanlah siapa yang terbaik,
agar tidak terlalu lama aku buang waktu untuk duduk tertunduk
menantinya, walau dia pilihanku...
01 Januari 2010
Teruntai ...
Ringkasan yang telah terbagi menjadi serangkaian puisi
Entahlah ada sesuatu,
Yang membuatku -terkadang- merasa dekat denganmu
Takut jika kehilanganmu
Tidak berani membayangkan pahitnya sebuah cerita
Apa yang aku rasakan sekarang?
Hanya serpihan-serpihan dari lemparan kata-katamu
Lagi-lagi -merasa- takut kehilangan
Padahal kita tidak saling memiliki
Dan aku terlalu takut..
Takut jika dirimu tidak sepertiku
Tidak menerima apa yang telah menjadi keyakinanku
Menjadi kembali kosong dan melupakanku
Cinta??
25 November 2009
~~ Puisi tentang . . . .
Karena ini puisi tentang dia,
yang memang sangat sederhana...
Dengan langkah yang sopan, ia memberiku arti
pada lukisan jemari yang tersemai diantara pucuk pucuk muda cemara
Mengingatkanku tentang perubahan,
karena ia tahu, kemana yang seharusnya aku tuju
Bermaksud menghilangkannya, aku berlari
fokus berpandang ke depan, tak ingin berhenti lalu mencarimu lagi
tapi sekarang lain
rasanya sedetik tak ada tentangmu
ada yang kurang, haha
seperti rasa sayur saat aku lupa menambahkan garam
ini puisi tentangmu
tentang kesederhanaan kata-katamu
tentang istimewanya keberadaanmu
takut ku rasa jika hilang bayangmu
emh.. tapi aku tak mau berharap
aku tak sanggup lagi menelan harapan pejal namun kosong
04 Agustus 2009
Ah!
saat putaran bumi terasa sangat cepat berlalu.
Aku tak sempat menghindari,
saat harap terlalu cepat melesat terbang...
Dan aku kehilangan,
aku berbicara padamu dengan gemetar,
aku kehilangan.
Disana berfoya dengan waktu,
menikmati katamu,akh!
Sempatkah terlintas sebuah tanya
Tentang asa yang kita sebar agar tumbuh?
Ataukah tidak ada satu pun keinginan?
Kembali aku terkungkung oleh waktu
Dia hendak menjemputku
Dan aku tak akan pernah tau siapa dirimu
Inginkah??
03 Agustus 2009
antara dua mata angin
agar kau tahu, apa yang ingin aku katakan.
aku tak mau memaksa, tapi aku hanya ingin satu: kepastian.
sadarkah?
dirimu bagai dua mata angin
yang menarikku ke timur
dan yang menarikku ke utara
dan aku kuasa menentukan pilihan
karena dirimu ada diantaranya
antara timur dan utara
dan kau biarkan aku menebak
kemana arah selanjutnya?
akh!
sadarkah?
dirimu bagai dua mata angin
yang tak pernah memberiku peluang
untuk memutarkan kincir
kincir yang ku rangkai atas harapan-harapanmu
aku tak pernah sesuka ini
menyukai seseorang,
tapi, akupun tak pernah seletih ini
menunggu kepastianmu
aku tak ingin terpuruk
dan akan ku tunjukkan itu!
aku tak ingin ada diantara dua mata angin,
akan aku tentukan langkahku sekarang..
tetapi, semoga tidak salah..
aku masih berharap (saat aku menentukan arah)
kau tepat disana menyambutku..
(Ya Allah, lindungilh waktuku dari kesia-sian.., aamiin)