Tampilkan postingan dengan label CerPen CeriTanyaa... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CerPen CeriTanyaa... Tampilkan semua postingan

08 Oktober 2010

Jika Jawaban TIDAK dari TUHAN

Bruk..!!

Bundelan kertas itu jatuh tepat di hadapanku.

“Gila bener tuh, perasaan udah banting tulang nyiapin laporan ini masih aja engga dianggap. Maunya apa siih??!!” Fida menggerutu melengkapi suara jatuhnya laporan itu. Aku nyengir kebingungan.

“Coba bayangin Nis… semaleman engga tidur, gara-gara laporan sialan ini, eh ini malah … hiiiiihhh gara-gara kurang aja satu udah di tolak.. udah gitu yaa Niss…… “ blab la bla… keluhan-keluhan Fida melengkapi iringan “Bruk” lainnya… dan aku tetap nyengir. Aku merasakan “gendok”-nya penolakan itu. Tapi buat apa menggerutu, toh engga akan menyelesaikan masalah.

*

Perjalanan pulang ini aku lewati seperti mengejar awan di kaki langit. Merasa dekat tapi tidak sampai-sampai. Lelah rasanya melewati laporan bulanan, bulan ini ganti atasan, semua laporan bulanan di obrak abrik. Yaa engga masalah kalo emang ada ketentuan baru, tetapi kan bagusnya kasih contoh formatnya, sebelum di buat. Hmm…yaah ngedumel juga seeh pada akhirnya .. hhehe.

Permasalahan di kantor sebenarnya dapat membuat aku kembali bersemangat. Setelah terjatuh kemarin. Bukan terjatuh secara fisik, tetapi mental. Mental?? Waah parah juga ya…??

Hampir dua tahun bersama Mas Ruby, selama itu juga sedikit banyak aku mengetahui siapa dia, dan selama itu juga aku bertanya-tanya apakah dia yang Tuhan pilih untukku?

Orangnya yang tidak banyak bicara membuat aku selalu berusaha menafsirkan apa yang ada di kepalanya. Dan selama ini aku merasa selalu bersabar, menunggunya memberikan kepastian. Kepastian tentang masa depan hubungan ini.

Tetapi aku tahu, bukan dia yang tak mau, tapi waktu yang belum pasti memberikan kepastiannya. Pekerjaannya sebagai abdi Negara mengharuskan dia bekerja di luar pulau sana jauh dari keluarganya. Aku tahu, bahkan aku rasa aku sangat tahu, bukan inginnya seperti ini. Tapi sumpahnya sebagai Bhayangkara membawanya jauh kesana, ”dan ini resikonya, de..” ucapnya ketika kami membahas tentang pekerjaannya.

Tapi semengerti apa aku, sebesar itu pula ketidakmengertianku tentang sesuatu, yang orang bilang ini kesabaran. Aku terkadang menangis sendiri untuk menenangkan hati. Banyak kejadian yang mungkin Mas Ruby tidak pernah mengerti. Mulai dari beberapa telepon dari perempuan yang mengaku punya hubungan khusus dengan Mas Ruby, dari beberapa pendapat teman-teman Mas Ruby tentang dirinya, dan tekanan orang-orang terdekatku yang merasa aku terlalu sabar untuk Mas Ruby.

Aku selalu bergeming.

Dan yang paling berat bagiku adalah ketika ada seseorang yang mengaku tunangannya Mas Ruby, memintaku untuk memutuskan hubungan dengan Mas Ruby. Aku sangat terpuruk. Aku merasa tidak berkaki, seketika aku terjatuh. Aku demam tinggi, kepalaku pusing tidak terkira.

Keluargaku tidak tahu mengapa sampai aku sakit, Fida yang tahu. Fida memberikan masukan, mungkin Mas Ruby bukan yang terbaik untukku. Tapi, aku tetap mempertahankan hubungan.

Mempercayai diri sendiri, bahwa aku melakukan yang terbaik. Setidaknya untuk diriku, karena jauh dari apa yang aku sadari, aku sangat menyayangi Mas Ruby.

*

Suatu hari, selama 2 hari tidak ada kabar sama sekali dari Mas Ruby, pada awalnya HP Mas Ruby dapat aku hubungi, tetapi setelahnya nomornya tidak aktif. Banyak sekali pertanyaan bersarang di benakku. Apa yang dilakukannya? Dengan siapa dia? Dimana dia berada? Sampai pertanyaan yang menurutku tidak pada tempatnya : Apa sih maunya dengan matikan HP???

I feel that I’m so alone. No One’s here with me, some who’ll understand me.

“Kok keliatannya murung terus, Nis? Kenapa?” Tanya Fida saat itu.

“Lagi banyak yang difikirin, Da… ” Jawabku sambil tersenyum.

“Aneh aku tuh sama kamu, Nis. Walaupun murung tapi tetep aja tenang kliatannya. Hahah” Fida tertawa, tertawanya dapat menarik simpul senyumku. “Tenang sist… aku ada disini untukmu…” katanya sambil merangkulku. Aku terharu. Aku menangis. “Aku disini untukmu,” bisiknya.

*

Pada Fida-lah aku selalu menumpahkan apa yang aku rasakan. Terutama perasaan aku terhadap Mas Ruby dan segala kejadian yang berhubungan dengannya, yang selalu menguras energy positifku. Fida-lah yang selalu dapat membantuku mengambil kesimpulan dan keputusan yang terbaik.

“Nisa percaya Tuhan, kan??” Tanya Fida ketika aku mengeluh dan mengeluh lagi tentang Mas Ruby. Untuk pertanyaan itu aku menggangguk.

“Trus, Nisa percaya Mas Ruby juga, kan??” Tanyanya lagi. Aku memandangnya agak lama. Dan jawabannya aku mengangguk lagi.

“Nah, dari dua itu mana yang Nisa paling percayai??” Fida melancarkan pertanyaan ketiga dengan sangat hati-hati.

“Tuhan” jawabanku mantap, sepenuh hati. Karena secara logika dan teori memang seharusnya seperti itu.

“Naah, memang harusnya begitu, Nisa sayang….. Percaya pada Tuhan aja.. Percaya kalau Mas Ruby yang Dia ridoi untuk Nisa, Dia akan menjaganya untuk Nisa. Tetapi jika bukan Mas Ruby, berarti ada sosok laki-laki lain yang lebih Tuhan ridoi, dan Tuhan akan menjaganya untuk Nisa. Dan Fida harap, Tuhan menjaga Mas Ruby untuk Nisa.. udaah jangan sedih lagi ya…” Kata-katanya menenangkanku, Fida memelukku.

*

Dan sekarang, entah seperti apa perasaan ini…

Aku bingung, jujur saja. Merasa banyak sekali keganjilan dalam hubunganku dengan Mas Ruby. Entah Mas Ruby merasa atau tidak. Dalam sholat-sholatku, dalam pertemuan denganNya, aku selalu berdoa untuk dibukakan jalan yang diridoinya. Agar, jika bukan Mas Ruby, dan bukan juga aku untuk Mas Ruby, Tuhan berikan petunjuk. Aku tidak ingin waktuku terbuang begitu saja.

Aku sholat istikharah..

*

Aku putus dengan Mas Ruby. Mas Ruby telah memiliki pacar dan akan menikah. Begitu pun aku, akan segera menikah. Kami bertemu untuk terakhir kalinya..

“Mas minta maaf sama Adek” katanya

“Ade juga minta maaf, semoga silaturahmi ini berkah..” jawabku.

Aku terbangun, kaget..!! Air mata tak tertahankan, aku menangis sejadinya. Benar-benar menangis. Dan malam itu hanya ada aku dan Tuhan.

Tuhaan, jika ini petunjukMu, beri aku waktu untuk mempersiapkannya.

Beri Mas Ruby juga waktu untuk memberitahu tentang ini kepadaku.

Tuhaan..jika memang ternyata Engkau menjaga Mas Ruby untuk seseorang yang lain, beri aku waktu untuk mempersiapkan ikhlasnya, beri aku kekuatan untuk tetap tersenyum, beri aku waktu untuk tetap bisa berdiri.. Tuhaan…

Aku menangis, benar-benar menangis…

HP ku tiba-tiba berbunyi, ada SMS dr Fida

NIS, JANGAN LUPA BESOK PEMERIKSAAN LAPORAN TERAKHIR.

SEMANGAAT!!

Huufh…

Aku lirik bundelan laporan yang hampir seminggu tidak ku sentuh.

Yaah… masih ada yang perlu aku pikirkan sekarang, bukan hanya tentang Mas Ruby. Segera aku ambil laporan itu. Melihat-lihat apa yang harus aku perbaiki.

HP ku berbunyi, SMS dari Mas Ruby

LOVE YOU…

Entahlah apa yang aku rasakan…

Dan apakah dia merasakan apa yang aku rasakan??

Siapkan aku Tuhaan, jika jawabanMu adalah TIDAK.

10 Januari 2010

Baiklah, Aku Pulang!!

Aku menatapnya berkali-kali. Dia tetap menunduk. Entah apa yang dirasakannya. Entahlah apa lagi yang dia rasakan. Inisiatif aku tinggalkan saja meja café tempat kami berbincang. Tak apalah, mungkin banyak taksi yang bisa aku sewa untuk sampai rumah. Akupun segera memasukan handphone dan dompetku. Lalu ku selempang tasku.

“Aku pergi!” kataku, sambil meninggalkannya sendiri. Tidak seperti di sinetron-sinetron, dia tidak mencegahku. Baiklah! Aku pulang.

**

Mas Iman, calon tunanganku, dia masih duduk tertunduk disana. Lagi-lagi aku tidak tahu apa yang dipikirkannya.

Pertemuan di café tadi tidak sengaja. Aku menunggu sahabatku Nuna disana, ada beberapa pekerjaan yang berhubungan dengan butik kami yang akan kami bahas. Setelah sampai di café, aku mendapat kabar, Nuna mendapat musibah, Kakeknya meninggal, dan Nuna langsung ke Jogja, jadinya Nuna tidak dapat menemuiku.

Dan ketika aku hendak pulang, aku lihat mobil Mas Iman terparkir. Karena penasaran, aku mencarinya di dalam. Dan aku mendapatinya sedang berbincang dengan seorang perempuan, yaa… namanya Maya, teman kuliah Mas Iman.

Karena tidak ingin mengganggu, aku menunggunya, sambil mengintai mereka. Alhamdulillah, aku selalu berpikiran positif tentang mereka, setidaknya 3 kali aku memergoki mereka bersama. Dan banyak informasi yang menyebutkan bahwa Mas Iman dan Maya ada hubungan, sering berlibur bersama dan tampak mesra. Dan tidak pernah aku tanyakan pada Mas Iman, aku mencari bukti, aku tidak mau persiapan pertunangan yang tinggal seminggu lagi jadi kacau.

Nuna selalu mendesakku untuk segera mencari tahu tentang Mas Iman dan Maya.

“Lo tuh ya… udah banyak bukti, Yuke! Lo mau kalian udah jauh ternyata si Iman itu engga baik??” Nuna selalu mengingatkan plus menakut-nakuti. Hmm…terkadang aku berfikir sejalan dengan Nuna. Tetapi, rasa hormatku pada Mas Iman dan keluarganya yang membuatku berfikir, “O, mungkin ada sesuatu yang harus di selesaikan dengan Maya”. Aku tidak mampu menuduh Mas Iman selingkuh. Dia tidak mungkin seperti itu.

Di café tadi aku menunggu mereka. Aku pesan capucinno hangat untuk menemaniku. Agak lama juga mereka berbincang, sesekali mereka tertawa lepas, dan yang aku kaget, Mas Iman merokok, ia tidak pernah merokok di depanku, dan memang setahuku dia tidak merokok. Aku terus mengamati mereka. Mas Iman tampak tidak ada beban bersama Maya, ia bebas.

Mungkin kalau ada Nuna disini, dia akan langsung menghampiri Mas Iman dan Maya. Dan itupun yang ingin aku lakukan. Tapi, aku masih ingin memperhatikan mereka. Mungkin, sekitar 60 menit aku disini, Maya tampak beranjak meninggalkan mejanya. Mas Iman pun tampak membereskan kemejanya. Hmm, aku tak mau kehilangan waktu, aku bertindak cepat. Aku telpon Mas Iman, beruntung Mas Iman langsung menerima telponku.

“Ya …” katanya menyambut telponku.

“Lagi dimana, Mas?” tanyaku langsung

“Baru selesai meeting nih, Uke dimana??”

Saat itu Maya dengan isyaratnya nampak berkata “Yuke??” pada Mas Iman, dan Mas Iman menggangguk.

“Hmm, lagi nunggu Nuna nii, tapi dia engga datang” jawabku.

Aku lihat Mas Iman dan Maya hendak keluar pintu café.

“Mas, aku dibelakang Mas, Uke mohon Mas persilahkan Maya pulang duluan! Uke ingin bicara dengan Mas!” kataku.

Mas Iman tampak terkejut, Ia mencariku. Tatapan kami berpapasan. “Uke mohon!” kataku memelas.

Lalu entahlah Mas Iman menutup telponnya lalu menarik Maya keluar. Kakiku mulai melemas, aku duduk dan menarik nafas panjang. Sekitar 10 menit berlalu, Mas Iman tidak kunjung menemuiku. Rasanya sedih bercampur, aku merasa tidak berdaya dan dicampakkan. Aku butuh Nuna, dan aku tidak bisa menelponnya sekarang. Aku menangis, rasanya berat sekali.

Tidak lama kemudian, Mas Iman datang. Aku menghapus air mataku. Dan aku berusaha tersenyum. Kami terdiam. Aku tidak tahu harus berkata apa.

“Udah lama dengan Maya disini, mas?” tanyaku akhirnya.

Mas Iman mengangguk. Sesekali dia menatapku. Aku terus berusaha menguasai emosiku. Kalaupun harus marah, aku ingin marah dengan terhormat, tidak seperti orang-orang primitive.

“Aku engga sengaja looh, lihat Mas sama Maya.” Kataku berusaha santai. Ilmu psikologi yang sudah aku geluti empat tahun tidak ingin aku sia-siakan. Aku usahakan semuanya nampak baik-baik saja.

“Kenapa engga langsung nyapa??” Tanyanya.

“Uke takut ganggu” Kataku lagi-lagi santai. Sepertinya air matakupun tidak lagi ingin turun, ia telah membeku. “Kenapa tadi Mas lama banget kesini, apa nganterin Maya pulang dulu ya??” aku menyindirnya.

“Maksud Uke apa?” Dia agak ketus, “Mas ada urusan! Kalau kira-kira tidak penting, kita pulang saja!” katanya.

“Ya, memang Uke tidak pernah penting sih!” lagi-lagi aku tetap menahan intonasiku.

“Maksud Uke apa?” Dia berdiri.

“Uke ingin bicara, Mas.” Kataku, “Penting, jadi Uke mohon Mas tetap disini.” Aku mulai menenangkannya. “Uke engga ingin salah ambil jalan, Mas. Jalan terbaik buat Uke juga buat Mas” aku menghela nafas.

Mas Iman menatapku, aku tetap tenang, padahal di dada berkecamuk, kacau sekali.

“Saat Mas mengenalkan Uke sama keluarga Mas, saat kita merencanakan rencana jangka panjang, dan saat semuanya hampir terwujud, ternyata Tuhan tetap menunjukkan jalan yang benar meskipun sudah sejauh ini.” Kataku. Mas Iman menunduk.

“Hmm, Uke pernah bilangkan Mas, kalau ada apapun yang mas rasakan tentang kita, bilang. Mas tahu, Uke tidak bisa dan tidak ingin marah” aku menarik nafas.

“Tapi Mas tidak bilang, sampai Uke tahu apa yang seharusnya Uke lakukan” kataku.

“Kita putus, Mas.” Aku berkata dengan tegas.

“Maafkan Mas, Ke..” katanya “Tapi Mas mohon, Uke jangan pergi dari Mas, Mas yang salah” katanya menatapku.

“Mas, Uke engga bisa menerima Mas lagi, Uke sudah tahu kok hubungan Mas dengan Maya” lagi-lagi aku tegas.

Mas Iman tampak terkejut.

“dan Uke kan udah bilang, Uke engga ingin ada di jalan yang salah, kalau Mas lebih memilih Maya, Uke akan sangat berlapang dada, Uke yakin semua akan indah pada waktunya”.

Aku menatapnya berkali-kali. Dia tetap menunduk. Entah apa yang dirasakannya, Entahlah apa lagi yang dia rasakan. Inisiatif aku tinggalkan saja meja café tempat kami berbincang. Tak apalah, mungkin banyak taksi yang bisa aku sewa untuk sampai rumah. Akupun segera memasukan handphone dan dompetku. Lalu ku selempang tasku.

“Aku pergi!” kataku, sambil meninggalkannya sendiri. Tidak seperti di sinetron-sinetron, dia tidak mencegahku. Baiklah! Aku pulang.

**

Dan kini aku dalam Taksi, meluncur menuju rumahku. Segera aku siapkan hatiku untuk bicara dengan Papa, tentang Mas Iman dan rencana pertunangan kami.

Aku tahu Papa pasti sangat kecewa, Papa sangat sayang dengan calon mantunya itu, hmm… mantan calon mantu aku rasa sekarang.

Aku tahu, tidak ada pesan yang terlambat dari Tuhan, Tuhan Tahu dengan pasti, apa yang terbaik dan kapan waktunya…



the end

30 Oktober 2009

Rencana Lain

Beberapa kali ia terlihat menangis. Saat dilihatnya foto berbingkai itu, sering kali pandangannya jatuh kosong. Kadang-kadang ia tersenyum, tapi getir... Ah! Hati dan perasaan perempuan memang mudah tersentuh. Berat badannya nampak menyusut, ia tidak punya nafsu makan seperti yang sebelumnya.

Belahan hatinya hilang, mungkin itu pembukaan awal untuk menceritakannya. Suaminya kadang terlihat sedih juga, belakangan ini sang suami sering itikaf di Masjid, untuk menenangkan diri. Berpasrah: bahwa rencana Tuhan pasti baik.

Anak, memang anugrah terindah. Saat awal kehamilannya, sang istri begitu gembira, terlebih keluarga besarnya. Berjalan bulan-bulan selanjutnya, kehamilan tampak begitu sehat, Ibu sehat juga bayi dalam kandungannya. Sang Suami semakin giat bekerja, ia menabung dan berupaya untuk anaknya. Saat kelahiran pun, keluarga bersuka cita, semua terharu, lalu menebak-nebak mirip siapa bayi yang lahir itu..

Usia Golden Age di lewati dengan sempurna, sang bayi yang telah menjadi balita terlihat semakin pintar, selalu ada tawa di rumah sederhana itu. Hampir setiap minggu, kakek dan neneknya datang untuk menjenguk atau membawa jalan-jalan, semuanya begitu berwarna saat sang anak ada di dunia.

Tetapi, Tuhan punya rencana lain. Nyamuk demam berdarah rupanya di utus untuk menusukkan jarumnya pada tubuh sang anak, hingga kelucuannya berubah menjadi panas tinggi, semua keluarga panik. Banyak cara yang dilakukan, tetapi Tuhan tetap punya rencana lain, sang anak dipanggilNya..

Perempuan itu sesekali menatap sekeliling rumah sederhananya, digenggamnya foto berbingkai, kadang nafasnya tak teratur, ia menangis lagi. Jika suami melihatnya, ia buru-buru menghapus air matanya, lalu memamerkan senyum simpulnya, walau masih terlihat getir.

Suatu ketika mereka berbicara tentang takdir. Lalu mereka berkesimpulan, Jika Tuhan mengambil yang terbaik, maka Tuhan akan menggantinya dengan yang lebih baik dan Tuhan Maha Mengetahui orang-orang yang berserah dan bersabar..


Semakin hari, kesedihan itu semakin teralihkan.. sampai bahagia datang tak terkira, sang Istri kembali positif hamil, dan dikaruniai anak kembar..
Ya rencana lain Tuhan memang selalu indah dan tepat pada waktunya..

03 Agustus 2009

Eforbia, harapku Jangan Kau Layu


Sisa-sisa hujan masih tampak sangat segar. Aku memandang dedaunan disebrang pohon bunga kertas itu masih tampak basah. Akh! Inilah kesegaran... Sudah kurang lebih aku memandanginya, bunga merah eforbia yang selalu mekar itu: pemberian Mas Undang.
Sedih sebenarnya, namun ternyata ini penantian.

Lima bulan lalu, saat mentari sedang tinggi-tingginya aku bertemu dengan Mas Undang. Entahlah saat itu, tidak ada apapun yang terlintas. Hanya sosoknya yang gagah dengan seragam kebesarannya yang selalu terkenang. Oh! Itu mungkin kesannya, kesan pertama yang selalu ku ingat. Saat itu aku sangat pusing, rupanya tensi darah sedang rendah-rendahnya, tidak pula aku sarapan: bimbingan dengan dosen tepat waktu lebih penting dari pada sarapan. Hmm, aku ingat aku memberhentikan motorku, aku membuka helmku, aku sangat pusing, entahlah mungkin mau pingsan. Tiba-tiba sosok gagah menghampiriku. Yang aku ingat hanya ucapan salamnya... aku terbangun, dimana ini?? aku berada didipan yang keras, aku pusing.. sosok tadi menghampiriku, "kamu pingsan" katanya sopan.

Aku pertama kali bertemu saat itu.

Mas Undang mengantarkanku pulang: dia sangat manis.

Beberapa waktu berselang, sering aku dan Mas Undang bertemu. Hanya sekedar menyantap makan siang, atau mencicipi mie ayam, dia sangat menyukainya. Aku selalu rindu ketika dia memimpin kami berdoa sebelum makan. Dia mengingatkanku untuk sarapan. Dan saat dia mengatakan sesuatu...

"... bersediakah menjadi pendamping mas, Ni?"

Aku ragu, tapi aku tak berani menolak. Ku jawab tersenyum, "...insyaAllah, Mas"

Dari sana, kita mulai dekat. Kami melibatkan keluarga untuk urusan ini. Aku bahagia, mendengar penilaian Ibu dan Bapak tentang Mas Undang. Aku pun dipertemukan dengan keluarganya. Entahlah, tapi aku rasa Ibu Mas Undang senang padaku, aku senang pula berada di tengah keluarganya.

Lima bulan itu, bagiku sangat berkesan.
Dia memberiku eforbia, indah sekali.... Aku selalu menatapnya pada pagi hari, sebelum aku melewati jalan dimana kami pertama kali bertemu. Dan aku selalu tak sadar meneteskan air mata... Aku rindu padanya, pada Mas Undang...



dia telah tiada..



(cuma cerita duanks..)